Harga Batu Bara Pulih, Produksi Dikurangi, Revisi Tarif Royalti Minerba sudah Selesai
|
- Harga batu bara Newcastle naik ke 96,75 USD/ton setelah sempat turun selama empat hari berturut-turut.
- Cerrejon, anak perusahaan Glencore, akan mengurangi produksi sebesar 5 hingga 10 juta ton per tahun.
- Kebijakan baru 2025 membebani penambang di Indonesia, menghadapi biaya operasional yang meningkat.
Harga batu bara Newcastle pulih ke 96,75 USD/ton pada hari Kamis, setelah sempat turun ke 96,40 USD/ton pada perdagangan kemarin, menghentikan penurunan sebelumnya yang telah berlangsung selama empat hari berturut-turut. Pemulihan ini terjadi setelah Cerrejon, anak perusahaan Glencore, menyebutkan akan memangkas produksinya. Sementara itu, harga batu bara Rotterdam bertengger di 98 USD/ton, naik 40 poin.
Pada hari Selasa lalu, dilaporkan bahwa Cerrejon, salah satu produsen batu bara terbesar, akan memangkas produksi di tambangnya sebesar 5 hingga 10 juta ton per tahun. Dengan langkah ini, total output tahunan Cerrejon diprakirakan turun ke kisaran 11 hingga 16 juta ton.
Keputusan strategis ini diambil sebagai respons terhadap ketidakstabilan harga batu bara termal yang diangkut melalui laut. Dengan pasar yang terus berfluktuasi, Cerrejon menyesuaikan produksinya guna menjaga keseimbangan operasional di tengah dinamika industri energi global.
Menurut kutipan dari Bloomberg, harga batu bara Newcastle Australia merosot tajam hingga menyentuh level sekitar $100 per ton, mencatat penurunan sekitar 20% sejak awal tahun. Sebelumnya, harga batu bara sempat mencapai rekor tertinggi lebih dari $450 per ton pada September 2022, dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina.
Analis Bank of America menilai bahwa prospek batu bara termal dan metalurgi masih menghadapi tekanan, dengan belum adanya indikasi pemulihan harga dalam waktu dekat. Namun, menguatnya permintaan di India dan Asia Tenggara memberikan sentimen positif, meski permintaan di Eropa menurun. Selain itu, CEO Glencore Gary Nagle juga optimis terhadap prospek batu bara, “batu bara dibutuhkan saat dunia mengalami transisi”, katanya.
Permintaan batu bara di Tiongkok terus melesat, tumbuh 1,2% (setara 43 juta ton) pada 2024 dan mencetak rekor tertinggi baru. Menurut IEA, negara ini kini mengonsumsi hampir 40% lebih banyak batu bara dibandingkan seluruh dunia jika digabungkan – sebagian besar digunakan untuk pembangkit listrik.
Sementara itu di Indonesia, para penambang kini menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya operasional di Indonesia, menyusul penerapan berbagai kebijakan baru oleh pemerintah pada 2025.
Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa revisi aturan soal penyesuaian tarif royalti mineral dan batu bara (minerba) sudah selesai. Artinya, aturan baru soal tarif royalti ini bakal segera diterapkan. Tinggal menunggu penomoran, jelasnya lebih lanjut.
Direktur Eksekutif Pushep, Bisman Bhaktiar, menilai bahwa kenaikan tarif royalti bisa membawa dampak besar bagi para penambang, bahkan berpotensi menjadi pukulan berat bagi industri. Pemerintah harus bijak dalam mengambil keputusan soal regulasi ini. Apalagi, belakangan ini banyak suara yang meminta agar kenaikan royalti dibatalkan atau setidaknya ditunda, seperti yang dilaporkan oleh Bloomberg.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.