Kurs Rupiah Indonesia versus Dolar AS, yang Terlemah terhadap Mata Uang Asia Lainnya, Kini Melayang di 16.583


  • Utang luar negeri Indonesia melonjak tujuh kali lipat dibandingkan saat krisis moneter 1998.
  • Faktor domestik turut menekan Rupiah, membuatnya tertinggal dibandingkan mata uang negara Asia lainnya di tengah sentimen negatif dari kebijakan tarif Trump.
  • Inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi memicu kekhawatiran stagflasi, menekan Dolar AS dan mendorong investor beralih ke aset safe-haven seperti Emas dan Yen Jepang.

Kurs Rupiah Indonesia (IDR) melayang di sekitar 16.583 melawan Dolar AS (USD) saat pasar keuangan Indonesia ditutup untuk merayakan hari Raya Idul Fitri di hari Senin ini. Pasar akan kembali dibuka pada 8 April. Pasangan mata uang USD/IDR melemah sekitar 20 poin atau turun 0,12% pada saat berita ini ditulis.

Namun, secara keseluruhan Rupiah masih tampak melemah terhadap mata uang Paman Sam. Sebelumnya pernah mendekati level 1998 saat krisis moneter terjadi. Hardjuno Wiwoh, Pengamat Hukum dan Pembangunan, menyebutkan dalam pernyataan resminya, pada hari Sabtu lalu bahwa pada tahun 1998 total utang luar negeri Indonesia sebesar 70 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp1.165 triliun, tapi sekarang, dengan kurs yang sama, utang luar negeri Indonesia sudah melampaui 500 miliar dolar AS, atau sekitar Rp8.325 triliun. Angkanya naik hingga tujuh kali lipat, tegasnya. 

Fakta tersebut menunjukkan bahwa nilai Rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, nilai tukar saat ini belum benar-benar merefleksikan tekanan riil terhadap Rupiah.

Hardjuno menambahkan bahkan aset terbaik kita, seperti Danantara, belum tentu cukup untuk melunasi seluruh utang luar negeri yang sudah menembus Rp8.325 triliun. Ini tentu jadi perhatian serius. Jika aset andalan negara saja tak mampu menutup utang, maka kita harus lebih waspada.

Pemangkasan anggaran negara oleh Presiden RI Prabowo Subianto merupakan langkah yang bagus. “Tapi apa selanjutnya? Kita butuh rencana besar yang konkret dan berani, bukan sekadar respons jangka pendek. Saatnya bicara jujur dan transparan—ini soal masa depan negara. Dibutuhkan solusi yang menyeluruh dan realistis,” pungkasnya.

Bukan hanya terhadap Dolar AS, Rupiah juga melemah signifikan terhadap berbagai mata uang lainnya. Pelemahan ini membuat Rupiah semakin kehilangan daya saing di pasar internasional, dengan nilainya yang terus tergerus.

Rupiah tidak hanya tertekan oleh sentimen perang dagang Trump. Faktor-faktor domestik juga ikut memperberat langkah mata uang Indonesia, membuat performanya tertinggal dibandingkan mata uang negara Asia lainnya, lapor Bloomberg.

Dari AS, Departemen Perdagangan melaporkan bahwa Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) naik 0,3% di bulan Februari, atau 2,5% dibanding tahun lalu—sesuai prakiraan pasar. Tapi yang menarik, inflasi inti (yang tidak termasuk makanan dan energi) naik 0,4%, kenaikan bulanan terbesar sejak Januari 2024, mendorong inflasi tahunan ke 2,8%.

Belanja konsumen meningkat 0,4% setelah revisi penurunan 0,3% di Januari, sementara pendapatan pribadi melonjak 0,8% pada bulan yang sama. Sementara itu, survei University of Michigan menunjukkan ekspektasi inflasi 12 bulan ke depan melonjak ke level tertinggi dalam hampir 2,5 tahun. Hal ini semakin memicu kekhawatiran stagflasi dan menekan Dolar AS.

Sentimen investor juga masih terbebani oleh ketidakpastian yang ditimbulkan oleh tarif Trump. Presiden AS, Donald Trump, membuat pasar bergejolak minggu lalu dengan mengenakan tarif 25% pada semua mobil yang diproduksi di luar Amerika. Selain itu, laporan akhir pekan mengindikasikan bahwa Trump mempertimbangkan tarif lebih tinggi untuk beberapa negara, yang direncanakan mulai berlaku pada 2 April. Di tengah kekhawatiran akan perlambatan ekonomi, hal ini mendorong arus modal ke aset-aset safe-haven seperti Emas dan Yen Jepang, menjauh dari Dolar AS. Kekhawatiran akan terjadinya resesi di AS telah menekan Dolar AS, yang tentunya juga akan menyeret pergerakan USD/IDR.
 

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Prakiraan Harga Emas: XAU/USD Kesulitan untuk Pertahankan $3.100 di Pasar yang Bergolak

Prakiraan Harga Emas: XAU/USD Kesulitan untuk Pertahankan $3.100 di Pasar yang Bergolak

Emas spot kesulitan untuk mempertahankan ambang $3.100 di perdagangan sesi Amerika, mereda dari tertinggi baru sepanjang masa $3.167,68. Pasangan XAU/USD melonjak selama perdagangan sesi Asia, saat para pelaku pasar panik setelah pengumuman "Hari Pembebasan" Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Berita Emas Lainnya
Valas Hari Ini: Powell dan NFP AS Akan Menjadi Pusat Perhatian

Valas Hari Ini: Powell dan NFP AS Akan Menjadi Pusat Perhatian

Indeks Dolar AS (DXY) hampir sepenuhnya memudarkan rally Oktober-Januari, mundur ke terendah multi-bulan di terendah 101,00an di tengah penurunan yang sama jelasnya pada imbal hasil AS di seluruh kurva.

Berita Lainnya
Prakiraan Harga EUR/USD: Yang Selanjutnya di Sisi Atas adalah Puncak 2024 di Atas 1,1200

Prakiraan Harga EUR/USD: Yang Selanjutnya di Sisi Atas adalah Puncak 2024 di Atas 1,1200

Euro (EUR) sekali lagi menemukan pijakannya, melampaui level 1,1100 terhadap Dolar AS (USD) untuk pertama kalinya sejak Oktober 2024. Memang, EUR/USD naik ke wilayah 1,1150—tertinggi multi-bulan—di tengah tekanan ke bawah yang tajam pada Greenback, mendorong Indeks Dolar AS (DXY) ke terendah 101,00-an saat para investor terus mencerna "Hari Pembebasan" Presiden Trump.

Analisis EUR/USD Lainnya
Deteksi level-level utama dengan Technical Confluence Detector

Deteksi level-level utama dengan Technical Confluence Detector

Tingkatkan titik entri dan exit Anda juga dengan Technical Confluence Detector. Alat ini mendeteksi pertemuan beberapa indikator teknis seperti moving average, Fibonacci atau Pivot Points dan menyoroti indikator tesebut untuk digunakan sebagai dasar berbagai strategi.

Technical Confluence Detector
Ikuti pasar dengan Grafik Interaktif FXStreet

Ikuti pasar dengan Grafik Interaktif FXStreet

Jadilah trader yang cerdas dan gunakan grafik interaktif kami yang memiliki lebih dari 1500 aset, suku bunga antar bank, dan data historis yang luas. Ini merupakan alat profesional online wajib yang menawarkan Anda platform waktu riil yang dapat disesuaikan dan gratis.

Informasi Lebih Lanjut

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA